Cari Blog Ini

Selasa, 30 November 2010

pisang sahabat karib di musim penghujan

Musim penghujan telah tiba, udara dingin dan lembab sehari – hari melingkungi aktifitas kita. Dalam kondisi yang demikian sudah barang tentu tubuh kita dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak bersahabat ini, dengan cara seoptimal mungkin mempertahankan kalori tubuh. Padahal aktifitas kerja kita tiap hari disarankan tidak terpengaruh oleh cuaca yang demikian.

Cara yang bijaksana dalam menjaga stamina kita, agar aktifitas kerja kita tak terganggu adalah mempertahankan pola makan yang berimbang antara intake kalor dan zat gizi yang vital bagi tubuh kita. Seperti kita ketahui bersama bahwa ketahanan tubuh dapat kita pertahankan karena fungsi trace mineral dan multivitamin yang kita konsumsi.

Tentu saja untuk tujuan ini konsumsi zat gizi preparat sangat tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan kerusakan organ. Dengan demikian pilihan kita yang tepat adalah mengkonsumsi sumber zat gizi vital dari bahan makanan alami, seperti ikan, daging, sayuran, air susu dan buah – buahan serta lainnya.

Tentunya ibu – ibu akan berpikir, untuk melengkapi menu makan kita di meja makan di musim penghujan ini, pastilah tetap mempertimbangkan menu yang ekonomis tetapi bergizi. Khusus untuk buah-buahan pertimbangan ini akan tercakup apabila Ibu – ibu melengkapkan pisang sebagai pelengkap gizi keluarga, karena pisang adalah salah satu buah yang ekonomis tetapi kaya akan mineral dan vitamin (Vitamin B6, Vitamin C dan Potasum )

Keistimewaan buah pisang dibanding buah lainnya adalah selain mudah didapat, pisang juga mengandung zat gula yang akan mudah dan cepat dicerna menjadi glukosa darah untuk pembentukan energi tubuh (Pusat Penanganan Pelayanan Publik, Pemkot Semarang, Edisi 05, 2008), selain itu pisang juga mengandung banyak serat kasar dan Potasium (The Fruits Page- HOME- 2008). Bukankah keistimewaan itu sangat cocok untuk kesehatan keluarga di musim penghujan ini.

Rata- rata bobot satu buah pisang adalah 125 gr, dengan kandungan air sebanyak 75% dan serat kasar 25%. Di dalam serat kasar tersebutlah berbagai macam mineral dan vitamin yang bisa kita dapatkan dengan jumlah kandungan seperti yang tertera pada tabel di bawah.

Setiap kita mengkonsumsi 1 buah pisang ( dengan bobot rata – rata 125 gr ), maka rata– rata kita akan mengkonsumsi zat gula sebanyak ± 12 gram. Apabila konsumsi tersebut dilakukan perhari, sudah barang tentu kita akan mendapatkan suplai sumber enerji.

Tabel kandungan zat gizi pisang per 100 g (3.5 oz)
• Energy 371 kJ (89 kcal)
• Karbohidrates 22.84 g
• Zat gula 12.23 g
• Serat Kasar 2.6 g
• Lemak 0.33 g
• Protein 1.09 g
• Vitamin A equiv. 3 ?g (0%)
• Thiamine (Vit. B1) 0.031 mg (2%)
• Riboflavin (Vit. B2) 0.073 mg (5%)
• Niacin (Vit. B3) 0.665 mg (4%)
• Pantothenic acid (B5) 0.334 mg (7%)
• Vitamin B6 0.367 mg (28%)
• Folate (Vit. B9) 20 ?g (5%)
• Vitamin C 8.7 mg (15%)
• Kalsium 5 mg (1%)
• Zat besi 0.26 mg (2%)
• Magnesium 27 mg (7%)
• Phosphor 22 mg (3%)
• Potassiu 358 mg (8%)
• Seng 0.15 mg (1%)
Berat satu buah pisang : 100–150 gr (Sumber: USDA Nutrient database)

Apalagi bila kita memperhatikan kandungan Vitamin C yang relativ tinggi dibanding buah lain, maka sangat disarankan kita mengkonsumsi minimal satu buah per hari, karena pisang disamping memiliki kandungan Vit. C yang memadai, pisang juga mengandung 8 asam amino essensial, yang tidak mampu dibuat di tubuh kita (The Fruit Pages- HOME – 2008 ).

Kelebihan pisang dibanding buah lain:
• Buah yang paling mudah didapat di daerah tropis.
• Meski mengandung zat gula yang tinggi, tetapi tetap aman bagi yang mengalami obesitas dengan konsumsi yang terbatas.
• Banyak mengandung asam folat yang bermanfaat bagi ibu hamil.
• Kandungan serat kasar pisang yang relatif tinggi memberi keuntungan tersendiri bagi kesehatan tubuh. Hal ini karena tubuh kita membutuhkan serat kasar buah atau sayuran per hari sebanyak 25 – 30 gram, seperti yang direkomendasikan The American Heart Association.
• Pada musim penghujan tubuh kita sangat rentan terhadap serangan Bakteri coli yang mengganas dan menyebabkan penyakit diare / muntaber. Dengan cukupnya Vitamin C yang kita konsumsi, jaringan epithel yang melindungi usus besar akan relativ aman.

Dengan banyaknya keunggulan pisang di banding dengan buah lainnya, maka buah pisang disarankan untuk dijadikan menu makanan penutup pada hidangan makan keluarga. Karena keluarga yang sehat adalah keluarga dambaan kita semua.

sumber: www.lkpk.org

MENGENAL BAHAN PENGAWET MAKANAN oleh Bpk Ir.Bambang Sukmadji

Memang telah menjadi kontroversi kita bersama sebagai masyarakat modern, bahwa makna hidup sehat yang kita dambakan justru semakin pelik diwujudkan, di satu sisi kita semakin mudah untuk mendapatkan kepuasan hidup, namun disisi lain semakin sulit untuk mendapatkan arti hidup sehat. Rupanya teknologi yang dicapai oleh masyarakat dunia belum mampu menjamin peningkatan kesehatan, justru malah semakin menambah ketergantungan manusia terhadap bahan kimiawi.

Betapa tidak, karena hanya semata-mata mendambakan menu makanan yang berimbang dan hygeinis, masyarakat kita harus merelakan mengkonsumi zat kimia berupa Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dikandung makanan dalam kemasan, tanpa memperhatikan dampak terhadap tubuh kita. Fakta tersebut dewasa ini telah akrab di tengah masyarakat kita. Oleh karena itu sangatlah bijaksana bila masyarakat perlu mendapatkan informasi tentang BTP tersebut.

Yang dimaksud Bahan Pengawet adalah bahan tambahan pangan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh fungi, bakteria dan mikroba lainnya (Pustekom, 2006).

Dengan penambahan zat tersebut ke dalam makanan kemasan, maka secara komersil membawa berbagai keuntungan tersendiri, yaitu tahan lama, tampak segar, praktis, siap dikonsumsi, “flavaourable” dan menyimpan nilai estitika lainnya. Sehingga dengan kelebihan cita rasa tersebut menjadikan manusia modern lebih menyukai makanan kemasan ketimbang makanan alami..

Beberapa jenis BTP Pengawet yang dijinkan oleh pemerintah menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 1168/MENKES/PER/X/1999 yang merupakan Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan yang diperbolehkan., adalah ”Asam Benzoat, Asam Propionat. Asam Sorbat, Belerang Dioksida, Etil p-Hidroksi, Benzoat, Kalium Benzoat, Kalium Bisulfit, Kalium Meta Bisulfit, Kalkum Nitrat, Kalium Nitril, Kalium Propionat, Kalium Sorbat, Kalium Sulfit, Kalsium Benzoit, Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat, Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi Benzoit, Natrium Bisulfit, Natrium Metabisulfit, Natrium Nitrat, Natrium Nitrit, Natrium ppropionat, Natrium Sulfit, Nisin dan Propil-p-hidroksi-benzoit ”.

Adapun bahan tambahan makanan yang dilarang dalam penggunaannya karena dapat membahayakan kesehatan, adalah: ”Asam Borat dan senyawanya, Asam Salisilat dan garamnya Dietilpirokarbonat, Dulsin, Kalium Klorat, Kloramfenikol, Minyak Nabati yang dibrominasi, Formalin (Formaldehyde) dan Kalium Bromat ( Sumber : Pustekom 2006 ).

Formalin dan Boraks
Namun demikian adanya ulah pihak pihak yang tidak bertanggung jawab dan hanya mengedepankan keuntungan komersial belaka, memaksa mereka untuk menggunakan bahan pengawet yang yang umum terjadi dipasar bebeas meski tidak dijinkan oleh pemerintah, yaitu penggunaan formalin (bahan pengawet mayat) dan Boraks.

Formalin dihasilkan dari proses pengenceran Formaldehid ( 40 % ). Senyawa ini memiliki fungsi yang luas, diantaranya yaitu pada industri resin ( bahan dasar fiber), tekstil dan lain sebagainya; Khusus penggunaan di laboratorium, formalin berguna sebagai bahan pengawet, karena mampu membunuh semua jenis mikroorganisme pembusuk bahan. Selain itu Formalin memiliki bau yang keras dan menyengat.(Sumber: Reynolds, Martindale The Extra Pharmacopoeia, 30th ed, p717. NCBI).

Sudah barang tentu penggunaan formalin sebagai bahan pengawet pada makanan kemasan ataupun bahan makanan di pasar bebas (bakso, tempe, tahu, daging, ikan dan lain sebagainya) akan membahayakan kesehtan masyarakat. Apalagi dengan kadar di luar takaran dan sulit untuk dipantaiu oleh institusi terkait.

Pengaruh yang membahayakan tersebut, adalah : iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing. Efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang: iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, gangguan menstruasi dan karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang ,karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh.

Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat, berbentuk krista llunak. Jika dilarutkan dalam air akan menjadi natrium hidroksida serta asam borat. Baik boraks maupun asam borat memiliki sifat antiseptik, dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata..

Efek negatif Boraks pada kesehatan manusia adalah terjadinya akumulasi (penumpukan) pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian.

Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi. Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 – 20 g atau lebih.

Kekhawairan masyarakat terhadap bahaya bahan-bahan pengawet tersebut memang patut dicermati, lantaran penggunaan bahan tersebut menjadi tak terkontrol dipasar bebas. Melalui Warta Konsumen (1991), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melaporkan, sekitar 86,49 persen sampel mi basah yang diambil di Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya mengandung asam borat (boraks). Lalu 76,9 persen mi basah mengandung boraks dan formalin secara bersama-sama. YLKI juga melaporkan adanya boraks pada berbagai jajanan di Jakarta Selatan.

Meski survey tersebut dilakukan pada tahun 1991, namun karena tindakan BPOM yang tidak terpadu dan sistimatis dalam sidak perihal boraks dan formalin. Maka angka tersebutpun tidak akan berbeda jauh dengan kondisi tahun 2010.

Sebagian besar jenis bahan pengawet yang digunakan di masyarakat kuliner dunia, adalah bahan kimiawi yang digunakan untuk menghambat proses pembusukan, karena kemampuan bahan tersebut dalam membunuh pertumbuhan pathogen atau untuk menghentikan reaksi oksidasi bahan makanan.

Bahan Pengawet Makanan Lainnya
Beberapa bahan pengawet yang layak digunakan masyarakat dunia adalah sodium benzoat dan asam benzoic ; calcium, sodium propionat, asam propionik ; calcium, potassium, sodium sorbate, sorbic acid; sodium dan potassium sulfite.

Bahan pengawet yang akhir- akhir ini sering dan banyak digunakan adalah calcium, sodium ascorbate, and ascorbic acid (vitamin C); butylated hydroxyanisole (BHA) dan butylated hydroxytoluene (BHT); lecithin; sodium, potassium sulfite dan sulfur dioxide.

Jenis bahan pengawet (additif) yang berperan dalam menghambat reaksi oksidasi bahan makanan dikenal dengan istilah sequestrants. Sequestrants tersusun dari bagan ions logam, seperti Cu, Fe dan Ni. Ion ion tersebut bila dipindah dari permukaan bahan makanan akan mengakibatkan reaksi kimia oksidasi menjadi terhambat. Sehingga kebusukan makanan mampu diminimalkan. Beberapa contoh sequestrants tersebut, adalah asam ethylenediamine-tetraacetik (EDTA), asam sitrit, sorbitol, dan asam tartaric.

sumber: http://lkpk.org/2010/11/23/mengenal-bahan-pengawet-makanan/

Sabtu, 27 November 2010

Gangguan Sirkulasi part 4. Trombus

D. Trombis
Proses pembentukan pembekuan darah atau koagulum dalam sistem vaskular selama manusia masih hidup disebut trombosis. Koagulum darah dinamakan trombus. Akumulasi darah yang membeku diluar sistem vaskular tidak disebut sebagai trombus selain itu, bekuan yang terbentuk didalam sistem cardiovaskular setelah manusia meninggal tidak dinamakan trombus tetapi disebut bekuan postmortem. Trombosis jelas memiliki nilai adaptif yang berharga dalam kasus perdarahan, trombus bekerja efektif sebagai sumbatan emostasis. Namun, trombosis dapat menjadi masalah jika mekanisme pengaturan normal terganggu dan keadaan ini terbukti sangat berbahaya.

D.I Etiologi dan Patogenesis
Terdapat tiga kelompok faktor yang dapat mencegah pembentukan trombos yang tidak normal. Faktor pertama, sistem pembuluh normal mempunyai lapisan sel endotel yang lunak dan licin sehingga trombosit dan fibrin tidak mudah melekat. Faktor kedua, aliran darah normal dalam sistem pembuluh merupakan aliran yang cukup deras sehingga trombosit tidak terlempar ke permukaan dinding pembuluh. Faktor ketiga, mekanisme pembekuan masih mempunyai sejumlah pengaturan keseimbangan kimia untuk mengontrol pembentukan bekuan. Maka sesuai dengan hal tersebut, bekuan terbentuk secara tidak normal berdasarkan tiga keadaan yaitu: terdapat kelainan dan lapisan pembuluh; kelaianan aliran darah; peningkatan darah koagulasi darah itu sendiri. Aliran darah pada sirkulasi arteri merupakan aliran dengan tekanan dan kecepatan yang tinggi, dan arteri itu sendiri berdinding agak tebal dan tidak mudah berubah bentuk. Karena alasan ini tersering trombosit arteri adalah penyakit pada lapiran dan dinding arteri, khususnya artero sklerosis. Pada sirkulasi vena aliran darahnya merupakan aliran bertekanan rendah dengan kecepatan yang relatif rendah. Vena berdinding cukup tipis sehingga mudah berubah bentuk akibat tekanan-tekanan dari luar. Karena alasan ini, penyebab tersering trombosis vena adalah akibat berkurangnya aliran darah pada akhirnya, perubahan kimia dalam darah pasien dengan berbagai variasi penyakit menyebebkan hiperkoagulasi yang dapat menjadi komplikasi pada keadaan yang sudah diterangkan diatas.

D.II Morfologi dan Perjalanan Trombus
Trombus terdiri dari berbagai kombinasi agregasi trombosit, endapan fibrin, serta eritrosit dan leukosit yang terjaring. Konfigurasi yang tepat dari trombus bergantung pada keadaan tempat trombus tersebut terbentuk. Jika trombus mulai terbentuk dalam aliran darah unsur pertama yang sering adalah gumpalan trombosit yang melekat endotel. Hal ini dapat terjadi karena aliran darah abnormal memungkinkan trombosit berdiam pada endotel atau terlempar ke endotel; hal ini dapat terjadi karena lapisan endotel menjadi kasar, sehingga akan menciptakan tempat untuk egregasi trombosit. Sewaktu mengalami agregasi, trombosit melepaskan zat-zat yang mendorong terjadinya pengendapan fibrin, sehingga dengan segera agregasi trombosit tersebut dikelilingi oleh fibrin dan menjaring eritrosit. Gelombang peristiwa yang berturut-turut semacam ini dapat mengakibatkan struktur trombus menjadi kompleks dan berangka. Sebaliknya jika trombus terbentuk dalam pembuluh yang aliran darahnya lambat, maka bekuan darahnya hanya terdiri dari jalinan ditus fibrin yang menangkap unsur-unsur darah yang kurang lebih sama. Tetapi, berbeda dengan proses yang baru saja dijelaskan, bekuan postmortem terbentuk agak lambat sehingga unsur-unsur darah yang terbentuk berlapis-lapais sebelum bekuan mengeras, menyebabkan eritrosit, leukosit dan fibrin terpisah. Bekuan postmortem semacam itu cenderung lebih elastis dari trombus sejati dan sangat jarang melekat pada dinding pembuluh. Perbedaan ini dapat menjadi penting pada saat autopsi.
Trombus dapat terjadi dalam tiap bagian sistem kardiovaskular akibat berbagai macam sebab. Gambar menjelaskan trombus dalam sebuah vena provunda yang besar pada tungkai. Trombus semacam itu sering sekali dijumpai pada pasien yang harus terlentang lama di tempat tidur. Trombus ini timbul umumnya akibat laju aliran darah dalam vena-vena menurun, dan akibat kehilangan daya pompa aktivitas otot. Keadaan ini diperberat oleh melambatnya sirkulasi perifer akibat kegagalan jantung kronik. Flebotrombosis yaitu pembentukan trombus dalam vena, merupakan bahaya yang selalu ada bagi pasien yang harus berbaring di tempat tidur atau bagi pasien yang tidak dapat dimobilisasi. Trombus semacam ini relatif tenang atau dapat disertai dengan tanda-tanda dan gejala-gejala peradangan dinding pembuluh vena yang diduga akibat sekunder dari adanya trombus. Jika tanda-tanda peradangan menyolok, maka disebut tromboflebitis. Akibat yang paling ditakutkan dari trombus vena semacam itu adalah bila sebagian trombus terlepas kemudian terbawa dalam aliran darah dan tersangkut di tempat yang jauh.
Gambar di atas melukiskantrombus dalam atrium kiri jantung. Pada keadaan ini trombus terbentuk karena aliran abnormal dan pola sirkulasi melalui atrium yang dihubungkan dengan stenosis katup mitral. Kadang-kadang, trombus atrium semacam ini dapat bersifat seperti ”katup bola” yang mendadak menyumbat lubang atrioventrikular dan menimbulkan kematian mendadak. Trombus semacam ini lebih sering bertindak sebagai sumber fragmen yang didorong distal aliran darah.
Gambar di atas menunjukkan sebuah trombus pada katup jantung. Pada keadaan ini penyebabnya adalah infeksi bakteri pada katup tersebut, dan trombus itu disebut vegetasi. Vegetasi endokarditis infektif sangat berbahaya karena kerusakan lokal pada katup dan karena fragmen dapat didorong ke tempat-tempat lain dalam tubuh sehingga pembuluh-pembuluh lain dapat tersumbat dan terinfeksi.
Gambar di atas menggambarkan sebuah trombus dalam ventrikel kiri jantung. Trombus seperti iniyang melekat pada dinding sistem kardiovaskuler tetapi yang tidak menyumbat daerah tersebut dengan sempurna disebut sebagai tromus mural. Penyebab pembentukan trombus mural ventrikel adalah hipokinesis dinding jantung yang disebabkan oleh penyakit atau kematian dari miokardium yang ada di bawahnya.
Gambar di atas menunjukkan sebuah trombus di dalam arteri. Dalam gambar ini jelas tampak penebalan dinding arrteri dan dinding arteri kasar yang menjadi dasar terjadinya trombus. Dinding arteri yang kasar disebabkan oleh penyakit (aterosklerosis) dan merupaka faktor yang mempercepat terjadinya trombosis.
Seringkali, ketika pembentukan trombus tidak menimbulkan kematian, trombus dapat mengalami resolusi. Tubuh memiliki mekanisme fibrinolisis yang bersamaan dengan kerja leukosit dapat mengakibatkan disolusi bekuan. Setiap individu dapat membentuk trombus kecil dan mengalami resolusi tanpa pernah menimbulkan gejala klinis. Sebaliknya, beberapa trombus besar mengalami organisasi, disertai pertumbuhan jaringan granulasi yang masuk dari endotel pembuluh darah yang berdekatan. Pada keadaan ini, pembuluh yang terlibat dapat tersumbat secara permanen oleh jaringan parut. Kadang-kadang pembuluh darah yang terdapat dalam jaringan granulasi muda yang membentuk trombus, berorganisasi dan beranastomosis sedemikian rupa sehingga terbentuk saluran baru melalui tempat yang ditempati oleh trombus. Fenomena ini disebut rekanalisasi. Sayangnya, sebelum trombus mengalami organisasi atau resolusi, terdapat bagian trombus yang terlepas dan terdorong dalam aliran darah yang akhirnya tersangkut di tempat lain dan menymbat pembuluh lain.

D.III Efek
Akibat trombosis yang paling nyata mungkin terdapat pada kasus trombosis arteri. Jika arteri tersumbat oleh trombus maka, jaringan yang disuplai oleh arteri itu akan kehilangan suplai darah. Akibatnya dapat timbul kelainan fungsi jaringan hingga kematian jaringan atau kematian pasien. Akibat dari trombus vena agak berbeda. Jika salah satu vena tersumbat, kemungkinan darah akan menemukan jalan kembali ke jantung melalui beberapa saluran anastomosis. Hanya, jika vena besar yang tersumbat oleh trombus baru timbul gangguan lokal disertai kongesti pasif. Gangguan yang paling tidak menyenangkan akibat trombus vena adalah pemecahan trombus dan perjalanannya ke bagian distal tubuh. Demikian juga, pengaruh trombus jantung sebagian besar merupakan akibat perpindahan ke tempat lain dalam sistem kardiovaskular.